Kurang lebih setahun pembelajaran online telah dilaksanakan, diakibatkan oleh wabah virus Covid19 yang berasal dari Wuhan China mewabah di seluruh dunia termasuk negara kita Indonesia.
Bulan demi bulan dilalui dengan melaksanakan pembelajaran online mengajarkan kita banyak hal, walaupun terdapat pro kontra dalam melaksanakannya. Di tengah wabah ini sekolahpun mengadakan pelatihan teknologi (IT) untuk para guru.
Pelatihan IT tersebut diperuntukkan untuk seluruh guru AL Bina School guna memaksimalkan kemampuan untuk memberikan pembelajaran terbaik kepada siswa. Pada kesempatan ini gurupun menjelaskan kepada siswa bagaimana menjalankan berbagai teknologi guna kelancaran pembelajaran online. Bukan hanya siswa namun, orang tuapun juga ikut serta dalam pembelajaran bagaimana memanfaatkan berbagai teknologi demi kelancaran pembelajaran anaknya.
Namun, seiring berjalannya waktu nampaknya membuat siswa dan juga orang tua sedikit kewalahan dalam mejalani pembelajaran online, karena hampir setiap hari siswa harus menatap layar handphone maupun layar laptop yang sejatinya dapat membuat mata lelah.
Dipenghujung semester satu berhembus angin segar untuk para guru, siswa dan juga orang tua dimana pada tanggal 20 November 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan bahwa sekolah dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan memenuhu syarat tertentu, dilansir dari Kompas.com.
Sekolahpun mengupayakan dalam mempersiapkan segala sesuatunya guna memenuhi syarat untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka kembali. Namun, dipenghujung tahun berhembus kabar bahwa penyebaran wabah virus Covid19 mengalami peningkatan. Data terupdate Satgas penanganan Covid19 hingga 09/01/2021 angka positif mencapai 818.386 orang, sembuh 673.511 orang dan meninggal dunia mencapai angka 23.947 jiwa. Dengan angka peningkatan yang cukup tinggi maka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membatalkan pembelajaran tatap muka untuk sementara waktu.
Mengapa terjadi demikian? Mungkin saja diakibatkan oleh berbagai pelaksanaan kegiatan yang kurang dalam mematuhi protokol kesehatan. Terlebih indonesia baru saja telah melaksanakan pilkada serentak di 270 wilayah dimana proses kampanye tersebut membuat kerumunan masyarakat. Dan berbagai hajatan yang mungkin saja kurang dalam mematuhi protokol kesehatan.
Negara kita tidak hentinya memberikan upaya guna mengatasi masalah wabah Covid19. Salah satunya adalah pemberian vaksin yang rencananya akan dijalankan pada bulan Januari 2021 yang diharapkan dapat mencegah penyebarab virus Covid19. Namun, ditengah perencanaan akan dijalankannya proses vaksinasi di Indonesia, terdapat pro kontra terkait efektivitas vaksin tersebut.
Banyak yang setuju dilakukannya vaksinasi Covid19 namun tak sedikit pula yang menolaknya. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Niam Sholeh dalam dialog polemik MNC Trijaya, Sabtu (12/12/2020) menagatakan “Menanggapi prokontra vaksinasi ini ada dua level yang perlu dilakukan secara proporsional”.
Salah satunya yaitu menyadarkan masyarakat khususnya yang menolak vaksinasi agar menyadari bahwa pentingnya imunisasi sebagaimana pengobatan preventif. Dan menyakinkan masyarakat bahwa dengan vaksinasi dapat memutus penularan virus dalam hal ini Covid19.
Namun, sebagai makhluk yang beriman kita juga harus menyakini bahwa segala sesuatunya adalah kehendak Allah, dan apa yang terjadi saat ini merupakan kelalaian manusia. Maka dari itu kita hanya perlu tawakkal berserah diri kepada Allah setelah berusaha melaksanakan segala usaha dengan maksimal.
Dan kita sebagai manusia juga harus menyadari kesalahan dan kelalaian apa yang telah kita lakukan sehingga diberikan cobaan dengan adanya wabah virus Covid19 ini. Kita harus tetap berdo’a menjaga kebersihan dengan mematuhi protokol kesehatan, menjaga imun tubuh dan lingkungan serta mencari vaksin yang dapat menghentikan rantai penyebaran Covid19, agar kita dapat menjalani kehidupan norma kembali, khususnya harapan-harapan anak bangsa yang ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka.