Mengapa Guru Jaman Dulu Terlihat Makmur?

Jika berbicara tentang kesejahreraan guru, dari jaman kepresidenan Pak Harto sampai Pak Jokowi sekarang masih menjadi topik hangat.

Insentif cair, gaji ke tigabelas, dan sederet informasi lain tentang tunjangan-tunjangan yang menarik menjadi primadona obrolan.

Mulai dari ibu-ibu belanjaan, ibu-ibu rumpi setelah belanja, ataupun bapak-bapak pelanggan warkop atau pos kamling juga sangat menggemari topik ini.

Mengapa? Sebab kabar segar ini juga berpengaruh terhadap daya beli secara umum.

Sederhananya, jika para PNS lagi banyak pemasukan, hasrat belanja meningkat dan tentu saja terjadi kenaikan permintaan yang menyebabkan harga juga ikut baik jika stok tidak banyak tersedia.

Namun saya tidak hendak membahas hal itu. Justru saya ingin mengajak anda untuk mengingat dan merenungkan kembali.

Cerita-cerita menarik dan tidak kalah populer tentang guru-guru jaman dulu yang sukses mengantarkan kehidupan putra putrinya ke jenjang lebih baik.

Tentu saja, membuat kesejahreraan keluarga guru tersebut meningkat.

Seperti pertanyaan ini, mungkin juga pernah terbersit di pikiran anda.

Kok bisa ya, guru dengan gaji yang tidak seberapa bisa menyekolahkan putra putrinya ke perguruan tinggi sampai bahkan ke luar negeri.

Jika ditakar dengan hitungan manusia, tentu sepertinya mustahil.

Anonim

Namun, cerita tersebut nyata adanya. Bahkan tidak sedikit bukan?

Jika dilihat dari sudut pandang spiritual, kita mahfum bahwa keberkahan dalam mengajarkan ilmu telah membuat guru-guru dan keluarganya mendapatkan kemakmuran dan keberkahan.

Hal ini berarti konsep rezeki bukan hanya amplop yang diterima bulanan. Namun, kelapangan kesempatan serta kemudahan para guru tersebut mendidik putra putri mereka di rumah.

Jika ditelisik lebih jauh dan lebih dalam, sosok guru-guru ini memiliki karakteristik yang serupa, yaitu:

Ikhlas

Keikhlasan yang tidak terukur oleh tunjangan-tunjangan dan gaji bulanan sekalipun.

Keikhlasan yang lahir dari niat yang dibangun kokoh.

Keikhlasan yang juga lahir dari proses yang tidak sebentar serta dari hati yang tulus seorang pendidik kepada peserta didiknya.

Tiada niat lain, selain ingin melihat para anak didiknya menjadi paham, mengerti dan  menganalkan apa yang diajarkan olehnya.

Bersungguh-sungguh

Selain faktor ikhlas yang hanya bisa ditakar oleh Sang Maha Penghitung, sosok-sosok guru ini memiliki kesungguhan yang berbeda dengan guru-guru biasa.

Kesungguhan ini terlihat dari keseriusannya dalam menyiapkan perangkatnya, menyiapkan niat yang bulat dan tulus serta prosesi mendampingi anak didiknya di kelas dengan penuh kesabaran.

Jika ada yang tidak mengerti, diulangnya pelajaran sampai si anak tersebut paham. Jika dirasa kurang, beliaupun menyediakan waktu istirahat di sekolah dan di rumah untuk mengajarkan kembali.

Jujur & Amanah

Sosok tegas, menjalankan tugas negara maupun dari pimpinan sekolah selalu tampak pada guru-guru ini.

Jika diberikan amanah fungsi selain mengajar di kelas, dilakukannya sepenuh hati.

Tanpa memikirkan imbalan apa yang akan diterima setelah amanah itu tuntas selesai.

Kejujuran ini pula yang membuat anak didik menjadi segan dan senantiasa menghormati setiap keputusan guru ini.

Bersambung…

Bagikan Artikel ini
Facebook
WhatsApp
Telegram
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *